BNPB Tingkatkan Kesiapsiagaan Warga Pesisir Banten

By
5 Min Read

Bantentoday – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Kedeputian Bidang Pencegahan melakukan pendampingan kepada Pemerintah Provinsi Banten dan pemerintah kabupaten/kota dalam memperkuat kesiapsiagaan menghadapi aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK).

Tim Kedeputian Bidang Pencegahan BNPB telah melaksanakan penugasan sejak 6 September 2026 dengan melakukan koordinasi bersama pemerintah daerah, pemantauan kondisi wilayah terdampak, serta assessment kesiapsiagaan di sejumlah kawasan pesisir Banten. Kegiatan tersebut dilakukan untuk memastikan kesiapan pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi potensi dampak aktivitas GAK, termasuk potensi bahaya sekunder berupa tsunami.

Pada awal penugasan, tim BNPB melakukan koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Banten dan pemerintah kabupaten/kota untuk mendapatkan gambaran perkembangan kondisi terkini, dampak yang dirasakan masyarakat, serta langkah-langkah penanganan dan kesiapsiagaan yang telah dilakukan di masing-masing wilayah.

Aktivitas GAK sebelumnya berdampak berupa sebaran abu vulkanik di sejumlah wilayah Provinsi Banten dengan intensitas yang dipengaruhi arah dan kondisi angin. Kondisi tersebut sempat menimbulkan kekhawatiran masyarakat, khususnya di kawasan pesisir yang memiliki pengalaman terdampak tsunami Selat Sunda pada 2018.

Hingga Selasa (8/9) pukul 18.00 WIB, status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III (Siaga) berdasarkan informasi PVMBG. Aktivitas kegempaan juga masih terpantau dinamis. Masyarakat diminta tetap mematuhi rekomendasi keselamatan, termasuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.

Salah satu fokus utama penugasan BNPB adalah melakukan assessment kesiapsiagaan di wilayah pesisir yang memiliki risiko terhadap potensi tsunami akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Assessment dilakukan di sejumlah wilayah Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang, dan Kota Cilegon, termasuk kawasan yang pernah terdampak tsunami Selat Sunda 2018. Penilaian menggunakan indikator Tsunami Ready yang disesuaikan dengan karakteristik risiko dan kondisi kesiapsiagaan di masing-masing wilayah.

Di Kabupaten Pandeglang, assessment dilakukan di kawasan Tanjung Lesung, Desa Sumberjaya, dan Desa Panimbangjaya. Sedangkan di kawasan Tanjung Lesung, Kecamatan Panimbang, tim menemukan rambu evakuasi menuju titik aman di kawasan resort telah tersedia dan kegiatan simulasi tsunami telah dilakukan secara berkala. Namun, perangkat diseminasi informasi berupa Warning Receiver System (WRS) Gen masih dalam proses perbaikan.

Sementara di Desa Sumberjaya, Kecamatan Sumur, rambu evakuasi telah terpasang menuju dua lokasi evakuasi akhir, yaitu Kampung Pasir Malang dan kawasan hunian tetap. Tower sirene peringatan dini tsunami di halaman Kantor Kecamatan Sumur juga dipastikan siap beroperasi. Desa tersebut telah memiliki SOP peringatan dini tsunami dan dalam satu tahun terakhir telah melaksanakan kegiatan gladi.

Di Desa Panimbangjaya, Kecamatan Panimbang, pemahaman masyarakat terhadap risiko tsunami dinilai cukup baik. SOP peringatan dini tsunami telah tersedia, sedangkan tower sirene di halaman Kantor Kecamatan Panimbang dan peta jalur evakuasi di depan kantor desa terpantau dalam kondisi baik. Sosialisasi kesiapsiagaan juga dilakukan secara berkala.

Di Kabupaten Serang, assessment dilakukan di Desa Salira, Desa Karang Suraga, dan Desa Anyar. Desa Salira memiliki kesiapsiagaan yang baik dengan tersedianya peta bahaya, rambu dan jalur evakuasi menuju lima titik aman. Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) juga aktif dalam mendukung kesiapsiagaan masyarakat. SOP peringatan dini tsunami telah tersedia dan tower sirene di halaman kantor desa berada dalam kondisi baik.

Di Desa Karang Suraga, tim mencatat peran aktif relawan dalam menyampaikan informasi keselamatan kepada masyarakat dan pengunjung kawasan Pantai Anyer. Peta serta rambu evakuasi menuju enam titik aman telah tersedia, disertai SOP peringatan dini tsunami dan sirene yang berada di halaman kantor desa.

Sementara di Desa Anyar, pemahaman masyarakat terhadap risiko tsunami dinilai cukup. Peta dan rambu evakuasi telah tersedia, dilengkapi SOP peringatan dini tsunami serta tower sirene yang terpasang di SMPN 1 Anyar dan berfungsi dengan baik.

Di Kota Cilegon, assessment dilakukan di Kelurahan Kubangsari. Tim menemukan pemahaman masyarakat terhadap risiko tsunami cukup baik. Fasilitator kelurahan juga masih aktif menyampaikan informasi perkembangan situasi kepada masyarakat melalui grup WhatsApp. SOP peringatan dini tsunami telah tersedia dan tower sirene di belakang kantor kelurahan dipastikan berfungsi normal.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *