Ekraf Hadirkan IDE.IND Banten 2026, Buka Peluang Jenama Lokal Tembus Pasar Lebih Luas

By
4 Min Read

Bantentoday – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) menghadirkan IDE.IND Banten 2026 untuk mempertemukan jenama lokal dengan pasar yang lebih luas. Kegiatan yang menjadi bagian dari program Creative by Indonesia ini merupakan ruang promosi, pengembangan kapasitas, sekaligus pembukaan peluang kemitraan bagi pelaku ekonomi kreatif daerah.

Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya menegaskan, ekonomi kreatif bukan lagi sektor penunjang, melainkan mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional yang pengembangannya bertumpu pada potensi daerah. Melalui Creative by Indonesia, Kementerian Ekraf berupaya membawa kekayaan intelektual dan produk lokal agar memiliki daya saing di pasar nasional hingga global.

“Kita ingin bagaimana local heroes bisa naik ke tingkat nasional, kemudian national champion yang telah dikurasi dapat menembus pasar global. Intinya, yang kita kembangkan adalah kemitraan usaha, perluasan akses pasar, dan peluang kerja baru bagi masyarakat,” ujar Menteri Ekraf saat membuka IDE.IND Banten 2026 di AEON Mall BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten, Jumat (6/11).

IDE.IND Banten 2026 berlangsung pada 6–8 November 2026 dengan melibatkan empat kedeputian Kementerian Ekraf melalui total 14 booth program dan jenama. Jumlah tersebut terdiri atas satu booth fasilitasi konsultasi dari Deputi Bidang Pengembangan Strategis, 11 booth jenama dari Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain, serta masing-masing satu booth dari Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi dan Deputi Bidang Kreativitas Media.

Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekraf, Yuke Sri Rahayu, menjelaskan bahwa kegiatan ini menghadirkan peningkatan kapasitas pelaku usaha melalui lokakarya, pameran dan promosi produk, serta publikasi jenama dari 21 subsektor ekonomi kreatif di Provinsi Banten.

“Kami berharap IDE.IND Banten 2026 tidak hanya memperluas jangkauan pasar jenama lokal ke tingkat nasional, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mendukung produk ekonomi kreatif Indonesia,” ungkap Yuke.

Sejumlah jenama dan komunitas dari subsektor kriya, kuliner, fesyen, desain, gim, animasi, dan seni visual turut meramaikan kegiatan ini. Beberapa di antaranya adalah Retota, Apikmen Living, Dapur Bunda by Unie, Joomba, ProsperoFood, Oh My Craft!, Cylvies, dan Kaukau the Duckling

Pengunjung juga dapat mengikuti berbagai aktivitas interaktif, mulai dari lokakarya paper quilling, charm making, hand-building pottery, hingga pembuatan tumbler strap. Demonstrasi produk dan pertunjukan musik turut melengkapi rangkaian kegiatan selama tiga hari penyelenggaraan.

Wakil Gubernur Banten, Achmad Dimyati Natakusumah, menyampaikan bahwa pengembangan ekonomi kreatif membutuhkan perluasan jejaring, peningkatan pendapatan pelaku usaha, dan kolaborasi lintas sektor. Ia menekankan pentingnya keterlibatan pemerintah, dunia usaha, akademisi, masyarakat, dan media dalam membangun ekosistem yang mendukung pertumbuhan industri kreatif daerah.

“Ekonomi kreatif harus mampu memperluas networking, meningkatkan pendapatan, dan menumbuhkan kolaborasi. Pemerintah harus hadir untuk membimbing, mengarahkan, dan mendukung para pelaku ekonomi kreatif. Dunia usaha, akademisi, masyarakat, serta media juga harus terlibat,” tutur Dimyati.

Director of Mall AEON Indonesia, Keiichiro Kakuhari, menyampaikan bahwa pusat perbelanjaan memiliki peran strategis dalam mempertemukan produk lokal dengan masyarakat sekaligus membuka peluang pasar bagi pelaku ekonomi kreatif.

“AEON Mall Indonesia saat ini mengoperasikan lima pusat perbelanjaan dengan total lebih dari 45 juta pengunjung setiap tahunnya. Kami melihat hal ini sebagai peluang bagi produk lokal untuk semakin dikenal dan diminati oleh masyarakat. Kami ingin terus berkontribusi sebagai mitra bagi komunitas ekonomi kreatif Indonesia.” ujar Keiichiro.

Pemilihan pusat perbelanjaan sebagai lokasi kegiatan memberikan kesempatan bagi jenama lokal untuk memperkenalkan produk secara langsung kepada pengunjung. Format ini juga mempertemukan pelaku ekonomi kreatif dengan calon konsumen di ruang komersial yang memiliki potensi jangkauan pasar lebih luas.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *