BNPB Perkuat Kesiapsiagaan Tsunami di Banten

By
3 Min Read

Bantentoday – Kesiapan menghadapi potensi tsunami tidak hanya bergantung pada keberadaan sistem peringatan dini, tetapi juga pada pemahaman masyarakat dalam merespons peringatan, mengetahui jalur evakuasi, serta melakukan langkah penyelamatan dengan cepat dan tepat.

Guna meningkatkan kesiapsiagaan tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Pemerintah Provinsi Banten menggelar aktivasi sirine tsunami dan simulasi evakuasi mandiri di tingkat desa/kelurahan di Provinsi Banten pada Selasa (13/10).

Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Dr. Abdul Muhari, S.Si., M.T., menegaskan bahwa kesiapsiagaan harus dibangun melalui proses pembelajaran dan latihan yang berkelanjutan. Ancaman bencana tidak dapat dihilangkan sepenuhnya, tetapi risiko terhadap keselamatan manusia dapat dikurangi melalui mitigasi yang tepat, kesiapan infrastruktur, serta kemampuan masyarakat merespons peringatan dan melakukan evakuasi secara benar.

“Kesiapsiagaan bencana itu bukan pembelajaran sekali untuk seumur hidup, melainkan pembelajaran seumur hidup. Kejadian bencananya sendiri tidak bisa kita hentikan. Namun, yang wajib kita lakukan sebagai manusia adalah mengurangi dampak risikonya,” ujar Abdul Muhari saat membuka Sharing Season bertajuk “Implementasi SPAB dan Aksi Merespon Peringatan Dini (AMPD) Menghadapi Ancaman Gempa, Megathrust & Letusan Gunung Api di Banten”, yang diselenggarakan oleh Lembaga Resiliensi Bencana (LRB)/Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PP Muhammadiyah di Kota Serang, Banten, Selasa (13/10).

Dalam konteks ancaman tsunami, kesiapan masyarakat menjadi bagian penting dari efektivitas sistem peringatan dini. Sirine yang berfungsi harus diikuti pemahaman mengenai tindakan penyelamatan, termasuk kapan harus melakukan evakuasi, jalur yang perlu dilalui, dan lokasi aman yang dituju. Oleh karena itu, simulasi secara berkala diperlukan agar masyarakat tidak hanya mengetahui prosedur, tetapi juga terbiasa menerapkannya ketika menghadapi keadaan darurat.

Sejalan dengan hal tersebut, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Provinsi Banten, Budi Santoso, AP., M.Si., menegaskan bahwa aktivasi sirine dan simulasi evakuasi bukan sekadar pengujian teknis peralatan, melainkan bagian dari upaya memastikan sistem peringatan dini berfungsi dan masyarakat siap merespons ancaman tsunami.

“Kegiatan ini bukan sekadar membunyikan sirine, tetapi merupakan upaya untuk memastikan sistem peringatan dini berfungsi dengan baik, sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi ancaman tsunami. Keselamatan adalah tanggung jawab bersama, dan kesiapsiagaan adalah kunci untuk mengurangi risiko bencana,” ujar Budi Santoso.

Melalui simulasi tersebut, masyarakat berlatih mengenali bunyi sirine tsunami, mengikuti arahan petugas kebencanaan, menggunakan jalur evakuasi yang telah ditetapkan, serta menuju Tempat Evakuasi Sementara (TES) atau Tempat Evakuasi Akhir (TEA) yang aman sesuai dengan rencana evakuasi di wilayah masing-masing.

Latihan ini menjadi bagian dari upaya membangun respons yang terlatih sehingga masyarakat dapat mengambil tindakan tanpa menunda-nunda ketika peringatan diterima. Dalam situasi darurat, pemahaman terhadap tanda peringatan dan jalur evakuasi dapat membantu mengurangi keterlambatan mengambil tindakan serta menekan risiko jatuhnya korban jiwa.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *