Bantentoday – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak menyatakan bahwa realisasi peserta Keluarga Berencana (KB) aktif sampai dengan Juli 2026 mencapai 70,95 persen atau 165.581 jiwa dari jumlah pasangan usia subur (PUS) 233.594 jiwa. Pencapaian peserta KB aktif itu melebihi target nasional 60 persen prevalensi penggunaan kontrasepsi modern atau modern contraceptive prevalence rate (mCPR).
“Keberhasilan peserta KB Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) meliputi IUD, Implant, metode operasi pria (MOP) dan metode operasi wanita (MOW) gencar dilakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat khususnya pada pasangan usia subur untuk mengatur jarak kelahiran,” kata Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana DP2KBP3A Kabupaten Lebak Tuti Nurasiah dalam keterangan di Lebak, Selasa (11/8/2026).
Katanya, kegiatan sosialisasi dan edukasi juga berkolaborasi dengan TNI, PKK, Dinkes, Asosiasi Klinik, Posyandu dan (Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI). “Saya kira dengan kolaborasi itu realisasi program KB aktif hingga mencapai 70,95 persen atau melebihi target nasional 60 persen,” kata Tuti.
Tuti bilang, pencapaian realisasi KB aktif Kabupaten Lebak meraih nominasi kedua di Banten dan menerima penghargaan “Apresiasi Parasamya Karya Kencana”. Penilaian penghargaan tersebut atas berbagai aspek mulai sumber daya manusia (SDM), sarana prasarana, pembiayaan, catatan pelaporan, termasuk inovasi Sistem Pengendalian Alat Kontrasepsi dan Pelayanan Tepat Sasaran Keluarga Berencana atau “Sipantas KB”.
Peserta Program KB itu bertujuan untuk membentuk keluarga sejahtera yang berkualitas. Karena itu, bagaimana keluarga untuk merencanakan jumlah anak, perbaikan ekonomi serta perencanaan masa depan. ”Kami meyakini Program KB itu dapat mewujudkan keluarga sejahtera,” katanya menjelaskan.
Tuti mengatakan, Pemda kini bekerja sama dengan Klinik Anggara Rangkasbitung untuk vasektomi dalam mendukung MOP atau KB Pria secara gratis. Selama ini, KB pria relatif kecil, karena berbagai faktor, di antaranya budaya masyarakat, di mana kebanyakan KB identik dengan perempuan.
Selain itu, jelas Tuti, kaum laki-laki masih keraguan untuk dilakukan operasi vasektomi dan belum optimal sosialisasi kepada kaum laki-laki untuk mengedukasi maupun membentuk KB Pria. Dengan demikian , pihaknya mengapresiasi bahwa saat ini sudah terbentuk satu kelompok KB Pria Siliwangi, sedangkan ke depan bisa terbentuk di seluruh desa dan kelurahan. ”Program KB Pria itu diharapkan dapat mengendalikan penduduk dan menurunkan kasus kematian ibu,” tutup tuti.
