Bantentoday – Badan Pusat Statistik (BPS) Banten mencatat kinerja perdagangan luar negeri Provinsi Banten menunjukkan tren pertumbuhan sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Nilai ekspor Banten tercatat mencapai US$8.863,98 juta atau meningkat 3,32 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Sementara itu, nilai impor justru mengalami kenaikan lebih tinggi, yakni 18,74 persen menjadi US$29.642,61 juta.
Berdasarkan data perkembangan ekspor dan impor, kenaikan ekspor Banten ditopang oleh sektor migas dan nonmigas. Ekspor migas selama Januari-Agustus 2026 mencapai US$200,99 juta atau meningkat 167,17 persen. Adapun ekspor nonmigas tumbuh 1,87 persen menjadi US$8.662,99 juta.
Khusus Agustus 2026, nilai ekspor Banten mencapai US$1.202,78 juta atau naik 10,37 persen dibandingkan Agustus 2025. Ekspor nonmigas pada bulan tersebut tercatat sebesar US$1.181,89 juta, meningkat 10,24 persen secara tahunan.
Dari sepuluh komoditas ekspor nonmigas terbesar, tembaga (HS 74) mencatat kenaikan persentase tertinggi sebesar 49,25 persen atau bertambah US$285,27 juta. Sebaliknya, komoditas kakao atau cokelat (HS 18) mengalami penurunan terbesar, yakni 39,30 persen atau berkurang US$270,99 juta.
Berdasarkan negara tujuan, Tiongkok menjadi pasar ekspor nonmigas terbesar Banten dengan nilai US$1.405,13 juta. Posisi berikutnya ditempati Amerika Serikat sebesar US$1.017,01 juta dan India sebesar US$614,21 juta. Ketiga negara tersebut memberikan kontribusi sebesar 35,05 persen terhadap total ekspor nonmigas Banten. Sementara itu, ekspor ke kawasan ASEAN mencapai US$2.317,27 juta dan Uni Eropa sebesar US$922,25 juta.
Dari sisi sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan tumbuh 1,63 persen, sedangkan sektor pertambangan dan lainnya meningkat 54,33 persen. Namun, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mengalami penurunan sebesar 9,27 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Aktivitas ekspor Banten juga masih didominasi melalui Pelabuhan Tanjung Priok dengan nilai US$6.850,05 juta atau mencakup 77,28 persen dari total ekspor. Selanjutnya, Pelabuhan Merak menyumbang US$605,18 juta atau 6,83 persen dan Cigading sebesar US$573,64 juta atau 6,47 persen.
Sementara itu, dari sisi impor, Banten mencatatkan nilai sebesar US$29.642,61 juta sepanjang Januari-Agustus 2026. Angka tersebut meningkat 18,74 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Impor nonmigas naik 14,02 persen menjadi US$24.058,34 juta, sedangkan impor migas meningkat 44,50 persen menjadi US$5.584,27 juta.
Pada Agustus 2026, nilai impor Banten mencapai US$3.276,96 juta atau meningkat 15,46 persen dibandingkan Agustus 2025. Kenaikan tersebut dipengaruhi impor nonmigas yang tumbuh 18,26 persen menjadi US$2.677,35 juta serta impor migas yang naik 4,40 persen menjadi US$599,61 juta.
Untuk golongan barang impor nonmigas, mesin-mesin dan pesawat mekanik (HS 84) mencatat kenaikan nilai tertinggi sebesar 72,84 persen atau bertambah US$1.949,94 juta dibandingkan Januari-Agustus 2025. Sebaliknya, impor perhiasan dan permata (HS 71) mengalami penurunan 24,59 persen atau berkurang US$596,98 juta.
Tiongkok menjadi negara pemasok barang impor nonmigas terbesar ke Banten dengan nilai US$6.070,99 juta atau 25,24 persen. Berikutnya Australia sebesar US$2.621,74 juta atau 10,90 persen dan Singapura sebesar US$2.395,07 juta atau 9,96 persen. Sementara total impor nonmigas dari kawasan ASEAN mencapai US$4.616 juta atau 19,19 persen.
Berdasarkan penggunaan barang, impor bahan baku dan penolong selama Januari-Agustus 2026 meningkat 12,77 persen menjadi US$18.940,51 juta. Kenaikan juga terjadi pada barang konsumsi sebesar 22,87 persen menjadi US$2.209,92 juta serta barang modal yang tumbuh 33,30 persen menjadi US$8.492,18 juta.

