Bantentoday – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang, Banten, mencatat 43 hektare tanaman padi yang tersebar di 12 kecamatan dan 24 desa berpotensi mengalami gagal panen (Puso) akibat dampak kemarau ekstrem sepanjang tahun 2026.
“Informasi dari Dinas Pertanian potensi puso atau gagal panen itu sekitar 43 hektare yang tersebar di 12 kecamatan dan 24 desa,” kata Kepala BPBD Kabupaten Tangerang, Achmad Taufik di Tangerang, Rabu (5/8/2026).
Achmad Taufik mengatakan, tanaman padi yang tersebar di 12 wilayah kecamatan tersebut terancam puso akibat kekeringan hingga krisis air akibat irigasi mengalami penurunan debit air. “Jadi memang berdasarkan prediksi BMKG bahwa musim kemarau ini akan melanda cukup lama. Dan potensi cuaca yang ekstrem dengan curah panas tinggi dengan dirasakan sejak Mei hingga September 2026,” katanya.
Achmad Taufik menjelaskan, selain mengancam terhadap gagalnya panen, kemarau ekstrem yang mengakibatkan krisis air ini juga saat ini telah melanda sedikitnya 13 wilayah kecamatan dengan 64 desa/kelurahan yang ada di Kabupaten Tangerang. “Untuk jumlah KK itu ada 1.665 kepala keluarga (KK) ikut terdampak akibat krisis air bersih,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Sarana Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Tangerang, Sahri menambahkan sebagai langkah pemerintah daerah dalam menangani potensi kekeringan di lahan pertanian, maka pihaknya telah menyiapkan sebanyak 8,9 ton bibit atau benih untuk mengganti kerugian warga yang mengalami gagal panen. ”Langkah-langkah yang dilakukan Pemda sendiri yaitu, menyiapkan 8,9 ton benih pengganti,” sebutnya.
Kata Sahri, saat ini DPKP Kabupaten Tangerang masih melakukan langkah-langkah pencegahan untuk menghadapi ancaman kekeringan saat musim kemarau yang berkepanjangan pada lahan pertanian.
Selain itu, DPKP Kabupaten Tangerang juga telah melakukan pemetaan pada sumber air potensial, seperti bekas galian pasir di wilayah Selatan dan memfasilatasinya dengan fasilitas pompa air. ”Kami telah memetakan wilayah rawan kekeringan, memanfaatkan data BMKG untuk jadwal tanam, melakukan sosialisasi, menyiagakan brigade alsintan (pompa air), membersihkan saluran irigasi, serta menyiapkan bantuan benih jika terjadi gagal panen,” ucap Sahri.


