Ratu & Putri Kebaya Jadi Wadah Lestarikan Warisan Budaya

Bantentoday – Ajang tahunan Pemilihan Ratu & Putri Kebaya 2026 kembali digelar Anggalang by Omar di One Belpark Mall, Jakarta Selatan, Minggu (12/7/2026). Memasuki penyelenggaraan tahun keempat sejak pertama kali digelar pada 2022, kompetisi berskala nasional ini terus membawa misi melestarikan kebaya sebagai identitas perempuan Indonesia sekaligus membuktikan kebaya tetap relevan di tengah perkembangan zaman.
Tahun ini, ajang tersebut menghadirkan empat kategori sekaligus, yakni Putri Kebaya usia 4–12 tahun, Ratu Kebaya usia 13–30 tahun, Bunda Berkebaya, serta kategori Putri Istimewa bagi penyandang disabilitas. Seluruh peserta bahkan mendapatkan kebaya secara gratis sebagai bentuk komitmen penyelenggara agar semakin banyak perempuan Indonesia memiliki dan mengenakan kebaya.
Founder Anggalang by Omar, Omar, mengungkapkan ide menghadirkan Ratu & Putri Kebaya berawal dari kegelisahannya melihat semakin berkurangnya penggunaan kebaya dalam kehidupan sehari-hari.
“Ini tahun keempat. Kita mulai pada 2022 karena waktu itu ada kekhawatiran kebaya belum didaftarkan sebagai warisan budaya tak benda. Saya berpikir harus ada wadah supaya anak-anak mau mengenal dan memakai kebaya sejak dini,” ujar Omar.
Menurutnya, kebaya bukan sekadar pakaian tradisional, tetapi merupakan identitas perempuan Indonesia yang harus dijaga bersama.
“Kalau Jepang punya kimono yang mendunia, kenapa kebaya tidak bisa? Kebaya membuat perempuan Indonesia terlihat anggun dan bermartabat. Buat saya, kebaya adalah identitas kita,” katanya.
Mengusung tema “Kebaya adalah Hak Perempuan Indonesia”, Omar menegaskan bahwa seluruh perempuan Indonesia berhak mengenakan kebaya tanpa memandang usia maupun kondisi fisik. Karena itu, kategori peserta dibuat inklusif agar semua perempuan dapat berpartisipasi dalam satu panggung yang sama.
“Tahun ini semua kategori kami gabungkan. Ada anak-anak, bunda, hingga peserta istimewa. Saya ingin semua saling mengenal dan memahami bahwa kebaya adalah milik seluruh perempuan Indonesia,” tuturnya.
Selain kompetisi, para peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai budaya Indonesia. Omar bahkan menyebut ajang ini sebagai “Sekolah Kartini” karena peserta tidak hanya belajar berjalan di atas panggung, tetapi juga dikenalkan kembali pada budaya dan permainan tradisional.
“Mimpi saya, ajang ini seperti sekolah Kartini. Dari hari pertama sampai terakhir mereka berkebaya. Kami juga mengajarkan permainan tradisional karena ternyata sekitar 30 persen peserta tidak tahu permainan-permainan zaman dulu. Padahal itu bagian dari budaya kita,” jelasnya.
Meski demikian, Omar mengaku prihatin karena jumlah peserta tahun ini mengalami penurunan cukup drastis dibandingkan tahun sebelumnya. Jika pada edisi sebelumnya jumlah peserta mencapai sekitar 80 orang, tahun ini hanya sekitar 30 peserta.
“Saya juga sedih karena tahun ini pesertanya paling sedikit. Harusnya grafiknya naik, tapi justru turun drastis. Mungkin karena musim sekolah atau faktor lainnya. Namun apa pun yang terjadi, saya tidak mau mengurangi kualitas pembekalan dan karantina karena itu yang paling penting,” ungkapnya.
Menariknya, meski jumlah peserta menurun, jumlah penampil justru meningkat. Fenomena ini membuat Omar melihat adanya perubahan minat generasi muda.
“Yang tampil menyanyi, menari, justru lebih banyak daripada yang ikut lomba. Mungkin anak-anak sekarang lebih suka tampil daripada berkompetisi,” ujarnya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya, Omar juga memastikan seluruh peserta memperoleh kebaya secara cuma-cuma sejak registrasi. Langkah tersebut dilakukan agar semakin banyak perempuan Indonesia memiliki kebaya sebagai bagian dari identitas nasional.
“Tujuan saya sederhana, semua perempuan Indonesia punya kebaya. Kalau perempuan Indonesia sendiri tidak punya kebaya, lalu siapa yang akan melestarikannya?” katanya.
Di tengah berbagai tantangan, mulai dari minimnya dukungan hingga menurunnya jumlah peserta, Omar memastikan dirinya akan terus mempertahankan penyelenggaraan Ratu & Putri Kebaya setiap tahun.
