Bantentoday – Swarnaloka Journey baru saja menggelar hajatan mandiri mereka yang kedua, Void Vision #2: Among and Around. Dihelat dua hari, 24–25 September 2026 di Sasana Krida Universitas Negeri Malang (UM), acara ini jadi sekuel Void//Vision setahun sebelumnya.
Kalau di helatan pertama mereka seolah cuma mau mengenalkan diri, kali ini eksistensi itu semakin mantap. Mereka mengombinasikan modernitas yang sering dianggap musuh tradisi lokal, untuk membuat karya seni kontemporer dengan visual yang selalu mengejutkan.
Sejak awal Swarnaloka Journey memang nggak memaknai kata “void” sebagai kehampaan yang sunyi. Dari kiprah mereka sejauh ini, kolektif seniman media baru ini justru selalu merumuskannya dengan cara relatif baru. Mereka merespons ruang terbuka dengan ‘kebisingan’ akibat benturan ide-ide dan kegelisahan yang coba diakali lewat berbagai eksperimen visual.
“Void Vision ini, void itu kan ruang, vision itu berarti pandangan ke depan. Konsep ini bertujuan memberikan ruang ekspresi serta wawasan masa depan yang lebih luas bagi para kreator,” kata salah satu personel Swarnaloka Journey, Rizky Adha Darmawan.
Klaim itu dibuktikan lewat berbagai instalasi fisik dan dunia imersif di ruang pameran. Ini jauh berbeda dibanding gelaran Void//Vision di Latar Ijen Mei 2025 lalu yang lebih didominasi kubikal dan proyeksi layar datar.
Kolaborator yang mereka ikut sertakan pun lebih luas, dari kreator sedaerah sampai dari luar kota dan mancanegara.
“Dari Malaysia itu ada (Invitation Digital Artists), terus dari Denpasar (video mapping) juga ada. Bikin acara kita untuk memperlihatkan pandangan buat teman-teman mahasiswa atau komunitas yang merasa berkecil hati di dunia (new media art) ini, bahwa ada space-nya seperti ini,” ujar Rizky.
Fitur Void Vision #2
Di dalam Sasana Krida kemarin, penonton disuguhi instalasi fisik “The Void Gate” dari X-Chain Labs karya Luwky Kurniawan. Berjejer rapi dengan pameran poster Posko Visual 2026 bertema “Dream” sajian anak-anak Desain Komunikasi Visual (DKV) UM. Lalu jajaran instalasi fisik dari Pola Circa Studio yang membawa narasi sosial lewat bahasa visual, bentuk, dan komposisi spasial.
Swarnaloka Journey sendiri memamerkan kedalaman riset mereka yang disokong Dana Indonesiana lewat tiga karya instalasi utama garapan Story of Karana, yakni “RE:ACT, RE:USE, dan RE:SONANCE”. Mengambil objek lesung hasil riset di Pantai Ngliyep, mereka mengubah fungsi tradisional lesung jadi medium interaktif. Lesung yang kerap dianggap artefak usang diciptakan ulang sebagai ruang kosong yang punya nyawa segar.
Eksplorasi itu makin lengkap lewat Digital Artist Showcase imersif berbasis projection mapping yang menampilkan kanvas-kanvas bergerak milik Amelia Tri, MCxEvan, Lathigeni, hingga Adi Santoso.
Sementara itu di area luar, Swarnaloka juga sengaja membangun fasad khusus berstruktur unik, dipakai buat latar panggung utama pertunjukan. Fasad itulah yang jadi kanvas video mapping projection bikinan belasan seniman-studio yang ikut meramaikan acara. Karya-karya itu ngasih elemen visual yang lebih kaya bagi penampilan pertunjukan teater, performa Audio Visual (AV), sampai set dari Mathces Lab, Girl and Her Bad Mood (GAHBM), Grey, Rumi, dan re:NAN.
Ke depannya, Swarnaloka Journey berencana menjaga konsistensi ekosistem ini agar tidak berhenti di gelaran tahunan. Mereka punya target aktivasi berkala dalam skala variatif sebagai wadah yang kontinyu untuk para kreator.
“Harapannya ke depan bisa rutin bikin main event seperti ini. Ke depannya bisa 3 bulanan sekali ada aktivasinya, entah skala komunitas atau acara besar, yang penting untuk terus menghidupkan teman-teman kreator,” pungkasnya.

