Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia (MAGABUDHI) se-Provinsi Banten Tanam 1.050 Mangrove

Bantentoday – Dalam rangka memperingati Trisuci Waisak 2026, Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia (MAGABUDHI) se-Provinsi Banten menyelenggarakan kegiatan penanaman mangrove dan pohon di Balai Konservasi Ketapang, Mauk, serta Vihara Tjo Soe Kong, Tanjung Kait, pada Kamis (14/5/2026).
Kegiatan ini menjadi wujud nyata kepedulian umat Buddha terhadap pelestarian lingkungan serta upaya menjaga keseimbangan ekosistem pesisir demi terciptanya lingkungan yang hijau, lestari, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang. Sebanyak 1.050 bibit mangrove ditanam dalam kegiatan tersebut.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha, Supriyadi, dalam sambutannya menjelaskan bahwa kegiatan penanaman mangrove merupakan bagian dari implementasi gerakan ekoteologi yang digaungkan Kementerian Agama, selaras dengan gerakan ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) yang dicanangkan pemerintah.
“Hari ini mangrove menjadi bagian perhatian kita karena kita ingin menjaga area pantai di Mauk ini sebagai bentengnya agar ekosistem yang ada di Mauk ini terjaga secara baik. Mudah-mudahan semakin kita banyak menanam mangrove maka semakin kita berkontribusi untuk menyiapkan oksigen bagi para umat yang membutuhkan,” jelasnya.
Supriyadi juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus berkontribusi menjaga bumi demi keberlangsungan generasi mendatang.
Pada kesempatan yang sama, Bupati Tangerang, Mochamad Maesyal Rasyid mengapresiasi kepedulian umat Buddha terhadap pelestarian lingkungan, khususnya di kawasan pesisir Kabupaten Tangerang.
Dirinya menjelaskan bahwa Desa Ketapang, Kecamatan Mauk merupakan salah satu kawasan pesisir yang terus ditata pemerintah sejak 2019 agar menjadi kawasan yang lebih sehat dan tertata.
“Atas nama pemerintah daerah, dengan kehadiran umat Buddha dan seluruh komponen yang hadir di sini, kami mengucapkan terima kasih atas kepeduliannya terhadap lingkungan. Manfaat mangrove yang ditanam ini selain untuk mendapatkan oksigen yang bagus, abrasi juga bisa kita cegah dan lingkungan terlihat asri,” ungkapnya.
Momentum peringatan Trisuci Waisak tahun 2026 memiliki makna istimewa bagi umat Buddha Theravada di Indonesia. Selain merayakan Waisak, tahun 2026 juga menjadi tonggak bersejarah karena genap 50 tahun berdirinya Sangha Theravada Indonesia dan MAGABUDHI. Kegiatan ini menjadi suatu bentuk implementasi nyata atas tema yang diusung Sangha yakni “Menapaki Jalan Mulia, Bersumbangsih bagi Negeri”.
