Festival Film Jelek Vol. 2 Tawarkan Ruang Bebas bagi Film- film Anti-Mainstream

Bantentoday – Festival Film Jelek telah sukses menyelenggarakan pemutaran perdananya pada 28 Februari 2026 di Pasar Gembrong. Antusiasme yang tinggi dari masyarakat, baik dari respons yang diberikan maupun kehadiran langsung untuk menyaksikan, menjadi dorongan bagi terselenggaranya Festival Film Jelek Volume 2 yang akan berlangsung pada 1–3 Mei 2026.
Jumpa pers peluncuran FFJ Volume 2 diadakan secara daring dan luring pada hari Sabtu, 18 April 2026, dan dihadiri oleh Juan Hendry selaku Festival Director, Edvan Apriliawan selaku Festival Manager, dan Kisya Miryam selaku Programmer.
Melalui penyelenggaraan edisi kedua ini, Festival Film Jelek berharap dapat menjangkau lebih banyak pembuat film serta pengunjung, sekaligus memperluas ruang apresiasi yang sejalan dengan tujuan dan target yang telah ditetapkan.
Festival Film Jelek terbentuk dari sebuah gagasan di dalam tongkrongan — keresahan bersama sekelompok penggiat film yang karya filmnya tidak pernah diterima oleh festival film. Tak diekspektasikan, keresahan tersebut ternyata juga dimiliki oleh khalayak yang lebih luas, dan kehadiran FFJ diterima dengan baik dan meriah.
FFJ menyadari perannya untuk tidak hanya menaungi tongkrongan tersebut saja, tetapi seluruh sineas di Indonesia, dan ingin membalas antusiasme tersebut dengan meluncurkan festival volume keduanya pada tahun ini yang dapat menjadi ruang penaungan yang lebih luas lagi. Dengan segala keterbatasannya oleh para penggeraknya, FFJ dibangun melalui proses yang tulus dan mentah, didorong oleh misi untuk memprioritaskan inklusivitas dan kebebasan berekspresi yang ingin ditekankan.
Festival Film Jelek menjadi ruang apresiasi untuk film-film yang gagal — film-film yang tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Standar-standar yang menciptakan batasan, ekspektasi, dan ketidakpercayaan diri. FFJ hadir untuk film-film yang tetap lahir dan diciptakan terlepas dari segala keterbatasannya, dan tanpa terpengaruh oleh tekanan untuk memenuhi ketentuan-ketentuan tertentu.
Mengutip kembali dari form submisi film yang dibuka pertama kalinya, yang menggambarkan esensi dari FFJ:
“Festival Film Jelek adalah ruang apresiasi untuk film-film yang gagal, aneh, salah fokus, overacting, underbudget, salah export, salah subtitle, salah niat, dan tetap dibuat dengan penuh keyakinan.
Kami percaya bahwa tidak semua karya harus sempurna untuk layak ditonton. Kadang boom mic masuk frame, kadang color grading-nya seperti preset B612, kadang aktingnya terlalu serius untuk dialog yang tidak masuk akal; dan justru di situlah kejujurannya.
Karena di balik setiap film “jelek”, ada orang yang belajar, jatuh, bangkit, dan mungkin akan membuat film yang lebih jelek lagi tahun depan.”
Pada intinya, Festival Film Jelek (FFJ) hadir sebagai ruang bagi sineas yang masih bertumbuh dan terus belajar dalam berkarya. FFJ ingin memberikan tempat bagi film-film sederhana yang mungkin belum mendapat ruang di festival lain, namun tetap memiliki semangat dan keberanian untuk ditampilkan. Kami percaya setiap proses berkarya adalah bagian penting dari perjalanan para sineas dalam membangun sinema Indonesia yang lebih hidup dan beragam.
FFJ menggunakan label “jelek” bukan untuk mengolok-olok film-film tersebut, melainkan sebagai selebrasi dan perangkulan terhadap film-film yang biasa dilabeli “jelek” dan tidak sempurna oleh standar yang ada.
Di volume 2 ini, FFJ menerima submisi film sejumlah 270, yang berasal dari kurang lebih 29 kota di seluruh Indonesia. Di volume ini, FFJ memiliki dua program utama, yakni program pemutaran film dan non-pemutaran film. Program pemutaran film terdiri dari 6 program, yaitu program Opening Film (program yang memutar 1 film untuk menjadi pembukaan FFJ), program Special Short Circuit (program yang menampilkan sejumlah film berdurasi 1–3 menit, diikuti oleh pembongkaran batasan durasi film, terutama dalam festival film Indonesia), dan 4 program utama yang masing-masing membawakan tema yang berbeda-beda, serta berisikan pemutaran sejumlah film beserta diskusi bersama pembuatnya.
Tema program yang dibawakan beragam, mulai dari CGI (Cinema Ghoib Indonesia), yang menampilkan film-film dengan VFX ‘over-the-top’, hingga Ada Cinta di FFJ! yang menampilkan film-film cinta dari berbagai interpretasi.
Program non-pemutaran terdiri dari 3 sesi seminar yang dibawakan oleh pemateri yang berbeda-beda. Salah satunya Edwin dari Palari Films yang menyutradarai “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” dan “Aruna dan Lidahnya”.
Selain itu, . Misbar Kota sendiri menjadi sponsor utama dari keberlangsungan FFJ ini.
Misbar Kota sendiri merupakan platform sinema keliling untuk mengaktivasi ruang-ruang kota menjadi ruang sinema kota. Membuka kemungkinan-kemungkinan baru akan ruang pemutaran film sebagai ruang alternatif hiburan sekaligus pengalaman menonton yang baru bagi warga . Misbar Kota memilih dan memutar film-film Indonesia lintas era dan menyuguhkannya ke atas layar.
Sinema tidak bisa hidup hanya dari tepuk tangan. Di FFJ Vol. 2, kami percaya bahwa apresiasi terbaik adalah dengan menjaga agar dapur para sineas tetap mengepul. Oleh karena itu, kami menghadirkan Official Merch FFJ sebagai instrumen ekonomi kolaboratif.
Hasil dari penjualan ini akan diputar kembali untuk mendukung keberlangsungan roda ekonomi para film maker dan ekosistem FFJ itu sendiri.
Di FFJ Vol. 2, kami ingin meruntuhkan sekat antara penonton dan karya. Kami percaya akses terhadap sinema (meskipun sinema yang “jelek”) harus tetap inklusif. Oleh karena itu, tiket masuk tahun ini hadir dengan sistem Donasi Sukarela.
Aturannya Simple: Kalian yang menentukan berapa nilai apresiasi yang ingin diberikan untuk karya film dari 29 kota ini. Namun, sebagai bentuk solidaritas minimal untuk menjaga operasional festival dan apresiasi bagi para kreator, kami menetapkan minimum donasi sebesar Rp30.000,-.
Penutup:
FFJ hadir sebagai katalis bagi para sineas, pegiat film, dan seluruh ekosistem kreatif untuk terus bertumbuh secara organik. Kami sadar, menuju visi besar DKI Jakarta sebagai “City of Cinema” pada 2027, perjalanan kita tidak melulu soal glamor dan teknis yang terpoles, tetapi juga proses yang jujur.
“Sinema bukan tentang kesempurnaan teknis semata, tapi tentang keberanian menyuarakan keresahan melalui medium visual.”
Mari rayakan ketidaksempurnaan ini. Karena di dalam “kejelekan” yang jujur, seringkali terdapat estetika yang paling murni.
