Kolaborasi BRIN dan Pemprov Banten Kembangkan Mobile Clinic Berbasis Telemedicine

Bantentoday – Transformasi digital menjadi kebutuhan penting dalam menghadirkan layanan kesehatan yang lebih merata, efisien, dan mudah diakses masyarakat. Salah satu inovasi yang dikembangkan Pemerintah Provinsi Banten bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) adalah Mobile Clinic berbasis telemedicine untuk menjangkau wilayah dengan akses kesehatan terbatas.
Hal tersebut disampaikan Gubernur Provinsi Banten, Andra Soni, dalam Seminar Nasional bertajuk “Transformasi Digital Layanan Kesehatan di Indonesia: Model Implementasi Telemedicine dalam Penguatan Sistem Kesehatan Daerah” yang digelar BRIN melalui Pusat Riset Pemerintahan Dalam Negeri (PRPDN) di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Sarwono Prawirohardjo, BRIN Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (19/5).
Menurut Andra, pelayanan kesehatan saat ini tidak lagi dapat bergantung pada pendekatan konvensional semata, tetapi harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital.
“Transformasi digital menjadi kebutuhan untuk menghadirkan layanan kesehatan yang lebih tepat, mudah diakses, efisien, dan merata bagi seluruh masyarakat,” ujarnya.
Ia mengatakan, Pemprov Banten terbuka terhadap hasil-hasil riset BRIN dalam penguatan layanan kesehatan digital. Kolaborasi yang terjalin antara Pemprov Banten dan BRIN telah menghasilkan inovasi Mobile Clinic berbasis telemedicine serta layanan telemedicine di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP).
Andra menegaskan kebijakan publik di bidang kesehatan harus dibangun berdasarkan data dan ilmu pengetahuan atau evidence-based policy. Karena itu, seminar nasional tersebut diharapkan menghasilkan rekomendasi konkret terkait keamanan data medis, peningkatan literasi digital tenaga kesehatan dan masyarakat, serta pengembangan alat kesehatan dalam negeri yang terjangkau dan berkualitas.
Dalam sambutannya, Andra juga menyoroti tantangan pemerataan layanan kesehatan di Provinsi Banten. Meskipun memiliki jumlah rumah sakit yang cukup banyak, distribusi fasilitas kesehatan dinilai belum merata, terutama di wilayah pelosok.
“Mobile Clinic hadir dalam rangka menutup disparitas tersebut. Ini menjadi pelengkap layanan dasar kesehatan yang harus diperkuat melalui rumah sakit, puskesmas, dan klinik,” katanya.
Ia menjelaskan, Banten memiliki karakter wilayah yang kompleks, mulai dari kawasan perkotaan padat penduduk di Tangerang Raya hingga daerah terpencil dengan kondisi topografi yang sulit dijangkau. Selain itu, keterbatasan tenaga kesehatan di wilayah pelosok juga masih menjadi kendala.
“Di Provinsi Banten terdapat lebih dari 11 ribu kilometer jalan di luar jalan nasional dan tidak semuanya dalam kondisi baik. Karena itu, Mobile Clinic berbasis telemedicine menjadi salah satu solusi untuk menutup kesenjangan layanan kesehatan,” ujarnya.
Andra menilai tantangan yang dihadapi Banten juga dialami banyak daerah lain di Indonesia, terutama wilayah kepulauan dan daerah yang jauh dari pusat pemerintahan maupun pusat ekonomi.
“Mari kita jadikan teknologi sebagai alat untuk memberikan layanan kesehatan yang lebih hadir, merata, dan berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesia,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Organisasi Riset Tata Kelola Pemerintahan, Ekonomi, dan Kesejahteraan Masyarakat (OR TKPEKM) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Agus Eko Nugroho, menekankan bahwa telemedicine sebagai bagian dari pilar transformasi teknologi kesehatan mampu menjadi solusi atas keterbatasan jarak, waktu, dan infrastruktur pelayanan kesehatan, terutama di wilayah yang sulit dijangkau.
“Telemedicine merupakan inovasi disruptif yang mampu memangkas jarak, waktu, dan keterbatasan infrastruktur fisik kesehatan,” katanya.
Namun, Agus menekankan transformasi teknologi kesehatan harus diimbangi dengan inovasi kebijakan dan tata kelola yang baik. Menurutnya, tanpa dukungan regulasi dan tata kelola yang tepat, penguatan sistem kesehatan nasional akan sulit tercapai.
Agus menilai kolaborasi riset antara BRIN, Pemerintah Provinsi Banten, dan berbagai pemangku kepentingan menjadi faktor penting dalam pengembangan layanan telemedicine di Indonesia
